[Resensi] Antologi Puisi : Dari Sebuah Senja

Judul                           : Dari Sebuah Senja

Penulis                         : Nurhadi BW

Penerbit                       : Leutika Prio

Cetakan                        : Pertama, September 2011

Tebal                             : viii + 117 halaman ; 13 x 19 cm

Pemerhati Aksara      : Sabbih

Desain Sampul            : Anto

Foto – Foto                    : Dian SW.

Tata Letak                     : AGA

ISBN                               : 978-602-225-151-4

Sembilan puluh sembilan sajak dalam buku ini adalah sejumlah sajak yang terkumpul sebagai usaha pendokumentasian, ditulis antara 1987-2000. Tidak ada kriteria pemilihan maupun penggolongan yang dipergunakan. Sajak-sajak ini merupakan semacam catatan harian, semacam catatan impresionistik terhadap suasana, peristiwa, atau pemikiran yang kebetulan berkelebat dan tertangkap pena untuk dituangkan menjadi sajak. Ada jarak waktu antara penulisan sajak-sajak tersebut dengan penerbitannya. Masing-masing punya proses kelahirannya sendiri-sendiri. Tidak ada satu benang merah pun yang dapat dijadikan pegangan untuk menghimpun sajak-sajak ini ke dalam antologi yang diberi judul Dari Sebuah Senja. Pemberian judul semacam ini hanya sebatas kemunculan yang relatif berulang dalam beberapa sajak. Senja bisa jadi hanya sebuah kenangan atau mungkin sebuah obsesi yang menarik untuk ditangkap dalam sebuah potretan impresi puitis. Sebagai sebuah usaha pendokumentasian, tidak banyak diharapkan sajak-sajak dalam antologi puisi ini akan menjadi sebuah kajian pemerhati sastra Indonesia, khususnya pemerhati perpuisian Indonesia. Antologi puisi hanya sebuah usaha atau wahana pengingat akan sebuah penggal kehidupan penulisnya. Hal ini mirip seperti sebuah senja yang berlalu secara cepat dan berlanjut dengan kehidupan malam, yang bersiklus pada keseharian selanjutnya. Sejumlah foto ditambahkan ke dalam sejumlah halaman guna menambahkan desain grafis. Tidak ada keterkaitan antara isi masing-masing sajak ini dengan gambaran foto-foto tersebut. Meski demikian, perlu diucapkan terima kasih kepada Dian SW yang telah memberikan kontribusi atas foto-foto tersebut, sehingga turut mewarnai halaman-halaman sajak yang seringkali kering itu.

Berikut cuplikan puisi dari antologi puisi Dari Sebuah Senja :

Catatan Kamis Sore

Dari tembok Tamansari kubentangkan Jogjamu yang

dipadati rumah-rumah kecil berdesakan. Ada selenting

angin menyanyikan kedamaian. Sementara suara-suara

satwa terkurung dalam penjara Ngasem. Suara mereka

lapuk seperti puing-puing tembok itu.

Di sudut tembok itu kurenungi kembali

keterkurunganku di semesta yang telah lapuk.

 

Di barat matahari sekarat.

 

Yogyakarta, 280195

 

Sajak Dari Jendela Bis Kota

 

Dari jendela bis kota yang membawaku menyisir sudut-

sudut kotamu senja hari dalam kawalan mendung,

menyadarkan aku akan keterpencilanku. Kotamu yang

kusinggahi sejak lama belum ku ketahui benar sudut-

sudutnya. Dari jendela kaca itu kutatap wajah-wajah kotamu

yang baru.

Terhadap diriku sendiri aku terasing.

 

Yogyakarta, 120195

 

Sajak 13 Mei

 

Sore hari

Sebentar aku mampir di sana

Hujan menggemuruh

menolak kedatanganku

 

Di sepanjang Kaligawe tersebar aroma jamu jawa yang

mengingatkan leluhur kita.

Mereka begitu klasik dan sederhana.

Sementara kita dalam belantara kota terpelanting dalam

kehirukpikukan.

Senja abu-abu itu meredamnya dengan kecupak-kecupak

suara hujan.

Ada sederet kebisuan berjajar di sana.

 

Di sepanjang Kaligawe itu, aku terlempar kembali dalam

suasana kelahiran kita.

 

Semarang, 120595

 

Sajak di Ujung Dermaga

 

Di ujung dermaga

kutemukan senja

berangsur memadukan ketenangan langit, keresahan

ombak, kelancangan angin, dan kesederhanaan cerita

yang tak menarik diceritakan.

 

Di ujung senja

seperti biasanya

kutemukan menara

dingin saja.

 

Pemalang, 100888

 

Pemandangan Stasiun Jogja Senja Kala

 

Ada keterasingan di sini

Bunyi derita kereta membelah kesunyian senja

meremang

Beberapa kelompok keluarga datang

sekedar duduk menikmati pemandangan senja kala.

 

Di sini

segalanya berlalu dan menyatu

seperti berlalunya gerbong-gerbong kereta.

Mereka berhenti sejenak

bahkan ada yang tidak berhenti sama sekali.

Kepadaku,

melambaikan tangan pun tidak

menyapa pun tidak

memandang pun tidak

memperhatikan pun tidak.

 

Di stasiun Jogja senja kala,

kusandarkan sejenak kepenatan

kepenatan panjangku.

 

Yogyakarta, 171095

 

Tentang Penulis :

 

Nurhadi BW adalah staf pengajar pada jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta sejak tahun 1999. Mengajar sejumlah matakuliah sastra seperti Sastra Sejarah, Kritik Sastra, Kajian Drama, Membaca Sastra dan sejumlah matakuliah lainnya.

Riwayat pendidikan beliau yaitu telah menyelesaikan S1 pada Jurusan PBSI-FPBS-IKIP Yogyakarta tahun 1995, kemudian melanjutkan S2 pada Program Pascasarjana (bidang Sastra) Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta tahun 2004, dan menyelesaikan S3 di Program Pascasarjana (bidang Sastra) UGM.

 

Catatan Lain :

           

            Isi dari antologi puisi Dari Sebuah Senja ini lebih dominan menceritakan tentang sebuah senja, percintaan maupun keadaan yang ada di sekitar penulis, walaupun tidak jarang ada sebagian judul puisi yang menceritakan tentang kehidupan di luar negeri bak kehidupan dongeng seperti puisi yang berjudul Narcisus dan Paris, ada juga judul puisi yang berisi tentang kehidupan wayang di masa lampau yaitu Drupadi. Latar pembuatan puisi-puisi oleh Nurhadi BW ini kebanyakan berada di Yogyakarta, namun ada beberapa puisi yang dibuat diluar kota Gudeg ini, seperti puisi yang berjudul  Peristiwa, Warta dari Koran Kota dan Sajak Buat Linda yang dibuat oleh penulis di kota Pemalang, serta puisi yang berjudul Senja di Tanah Mas, Semarang Senja dan Sajak 13 Mei dibuat penulis di kota Semarang. Terlepas dari berbagai kekurangan yang ada seperti minimnya gambar atau foto pendukung yang bahkan kurang sesuai dengan isi puisi tersebut, walaupun sang penulis telah berpendapat di awal jika buku antologi ini hanyalah sebuah usaha atau wahana pengingat akan sebuah penggal kehidupannya dan sebagai catatan harian yang dituangkan dalam bentuk sajak. Namun secara keseluruhan isi dari buku antologi puisi yang berjudul Dari Sebuah Senja karya Nurhadi BW ini sangatlah recommended dan menarik untuk dibaca. Maka dari itu bagi teman-teman yang belum membaca antologi puisi tersebut segeralah untuk mencari buku tersebut  dan membacanya. Harapan kedepannya semoga kepada Bapak Nurhadi BW senantiasa diberi kesehatan selalu dan tetap mampu berkarya walau kini usianya tak semuda waktu itu.